Sudah lewat jam tiga, namun terik matahari masih saja dengan semangat 45 membakar bumi. Sempat terbesit sebuah pikiran gila, matahari semakin mendekat ke bumi kah? Atau neraka yang bocor kah? Hingga panasnya merasuk ke semua sendi sendi kehidupan manusia, dari cucian yang terlalu kering dengan warna yang semakin memucat tergilas matahari, sampai pengemis jalanan yang merelakan begitu saja uang uang berseliweran dan memilih berteduh di bawah pepohonan.
Aku sendiri, masih menunggu lepas jam empat, selain karena panas, juga karena ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di sekolah. Bosan. Kumainkan handphone di tangan dan berpikir untuk sekedar bersms ria dengan seseorang, entah siapa. Bima, nama itu kembali menyusup ke ingatan. Mungkin sudah 24 jam lewat sejak pesan singkatnya yang mengagetkan itu. He's still missing.
"Hai, lagi apa nih? Gimana kemarin berantemnya?"
Lama, hampir disetiap celah rapat salah satu acara sekolahku, entah ketika sang sekretaris sibuk menulis di papan tulis, atau si ketua yang berusaha mencairkan suasana dengan gurauan garingnya, atau lagi ketika para ketua divisi membicarakan program kerjanya, aku sempatkan melirik handphoneku. Tidak berubah, tetap layar yang sama dengan foto narsisku, tidak ada tanda sms baru.
Drrrt.. Bangku tempatku duduk mendadak bergetar. Tenang, tenang, bukan gempa kok. Cuma handphone ini aja heboh getarnya. Kuambil si asal getaran dari saku rok abu abuku. 1 new message..
"Mbak, kok pulangnya sore?"
Sial, lupa bilang kalau masih ada rapat di sekolah. Tapi bukan itu, kok yang sms malah ibuku sih, mana ini smsnya Bima? Ditungguin kok enggak muncul muncul. Jari jariku bermain indah menekan tuts handphone mengabarkan bahwa aku ada rapat dan pulang telat serta menyertakan pembelaan kalau aku sudah titip pesan pada Pak Joko, supir ayahku untuk mnjemputku sekitar setengah lima sore. Selesai, masuk saku rok lagi.
Drrrt.. Bangku tempatku duduk mendadak bergetar lagi. Eh, gempa! Just kidding. Tenang, santai bukan gempa kok. Tegang amat sih, Ini handphone getar lagi. 1 new message.. Ah, paling ibu lagi, bilang oke atau ngomel ngomel tanya kenapa aku enggak bilang sebelumnya. Biarin dulu aja. Biar kelihatan kalau lagi serius rapat.
"Ya udah, gitu dulu aja. Ayo pulang!"
Bu Ketua menutup acara dengan kalimat seadanya. Lelah tersirat di wajah cantik. Acara besar kami ini sungguh memusingkan. Tidak terlalu besar memang, tapi kurangnya sumber daya manusia yang mau berkomitmen untuk acara ini memang menjadi masalah utama. Sudahlah, saatnya pulang, istirahat.
"Kira!"
Aku berbalik, ya, Kira itu namaku, masa pada belum tahu sih? Sophia, salah seorang teman baikku memanggil. Seperti biasa, kami berjalan bersama ke depan sekolah. Masih 15 menit lewat pukul empat, Pak Joko belum terlihat di mana mana. Aku memutuskan untuk duduk lesehan dengan Sophia di dekat pos satpam.
"Kamu tadi pas rapat kenapa sih, gelisah amat? Bentar bentar lihat hape mulu."
"Hehehe.."
Aku cengar cengir saja menjawab pertanyaannya. Mematikan, sekaligus mengingatkanku akan handphoneku di kantong. Tulisan 1 new message bertenger di layar warna handphoneku. Kubuka, nomor Bima muncul. Sial, kalau tadi aku tahu itu sms dari Bima, aku mungkin tidak akan mengabaikan getaran yang terakhir tadi.
"Biasalah, masalah ma cewekku. Sempet adu mulut gitu kemarin, tapi sekarang sudah baikan lagi kok."
"Maaf, baru balas, tadi masih ada rapat dsekolah. Ohh, baguslah. Awet yah, sama cewekmu."
"Ok!"
You gotta be kidding me! Aku baru saja mengkhawatirkannya sehari semalam, lebih dari 24 jam, dan tanggapannya cuma kaya gitu? Bagus, aku juga tidak mau punya urusan dengan "orang yang sudah ada anjingnya". Digigit anjingnya repot entar.
"Sapa, Kir? Kenalan maya baru?"
Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Sophia. Lagi, aku tidak tahu harus menjawab gimana. Jadi lagi, aku cuma cengar cengir enggak jelas.
"Panjang ceritanya, Soph! Besok ya? Itu Pak Joko udah muncul, aku pulang dulu ya?"
Cabuut...
Showing posts with label tulisan. Show all posts
Showing posts with label tulisan. Show all posts
Saturday, March 26, 2011
Friday, March 25, 2011
Untitled2--proyek iseng kala hujan
Namanya Bima. Cowok berkulit gelap yang membeli kuda beruang berwarna pink dan berhidung babi itu bernama Bima. Dia manis, pintar membawa suasana yang hangat ditengah dinginnya hujan.
Aku merasa cewek yang mendapatkan boneka itu adalah cewek yang cukup beruntung. Memang sih, boneka aneh itu sebenarnya agak menyeramkan, tapi aku yakin banyak uang dan juga rasa malu yang dia relakan untuk membelinya. Gila kali, mana ada cowok yang mau bawa bawa boneka aneh sebesar gedung itu kemana mana, toko-pulang-ke rumah ceweknya.
Beberapa waktu setelah hujan berhenti siang itu, sebelum kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, kami bertukar nomor handphone dan berjanji untuk saling menghubungi suatu hari nanti.
Sore ini kembali hujan, untung saja aku sudah sampai di rumah dengan selamat--baca: tidak terlalu basah. Hujan yang sering tiba tiba tumpah dari langit itu sungguh tak terprediksi eksistensinya. Mentari yang cerah ceria bernafsu membakar manusia setengah jam yang lalu seolah mendadak hilang dari peredaran dan digantikan oleh hujan deras. Sama seperti Bima, setelah lewat berhari hari sejak kami sama sama berteduh siang itu, dia sungguh hilang, entah tewas, entah berpindah ke galaksi lain, mendadak sms dari nomornya berteduh di handphoneku.
"Aku mau berantem nih."
"Loh? Kenapa?"
"Ntar aku ceritain, doakan aku selamat ya?"
"Ogah banget, mau selamat ya jangan berantem."
"Haha:) ok, ntar aku kabarin."
What? Handphonenya sudah tidak aktif ketika aku mencoba meneleponnya. Cowok aneh bin ajaib itu sungguh aneh bin ajaib. Hilang ketika matahari cerah ceria dan kembali saat hujan dengan berita mengejutkan. Masa bodoh, baru juga kenal. Siapa elo?
1 menit.. 3 menit.. Itu manusia satu benar benar berantem. Sama siapa? Di mana? 5 menit.. Mungkin berantem sama ceweknya kali ya? 6 menit 30 detik.. Sial, kok jadi ribet sendiri sih aku. Baru juga kenal, kok udah khawatir gini ya? 10 menit berlalu, mungkin sudah berpuluh puluh kali aku melirik layar handphoneku, memastikan bahwa ada garis signal di pojok kiri atas dan nothing. Tidak ada sms lagi dari Bima.
Sepi, sunyi, bersamaan dengan meredanya hujan.
Aku merasa cewek yang mendapatkan boneka itu adalah cewek yang cukup beruntung. Memang sih, boneka aneh itu sebenarnya agak menyeramkan, tapi aku yakin banyak uang dan juga rasa malu yang dia relakan untuk membelinya. Gila kali, mana ada cowok yang mau bawa bawa boneka aneh sebesar gedung itu kemana mana, toko-pulang-ke rumah ceweknya.
Beberapa waktu setelah hujan berhenti siang itu, sebelum kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, kami bertukar nomor handphone dan berjanji untuk saling menghubungi suatu hari nanti.
Sore ini kembali hujan, untung saja aku sudah sampai di rumah dengan selamat--baca: tidak terlalu basah. Hujan yang sering tiba tiba tumpah dari langit itu sungguh tak terprediksi eksistensinya. Mentari yang cerah ceria bernafsu membakar manusia setengah jam yang lalu seolah mendadak hilang dari peredaran dan digantikan oleh hujan deras. Sama seperti Bima, setelah lewat berhari hari sejak kami sama sama berteduh siang itu, dia sungguh hilang, entah tewas, entah berpindah ke galaksi lain, mendadak sms dari nomornya berteduh di handphoneku.
"Aku mau berantem nih."
"Loh? Kenapa?"
"Ntar aku ceritain, doakan aku selamat ya?"
"Ogah banget, mau selamat ya jangan berantem."
"Haha:) ok, ntar aku kabarin."
What? Handphonenya sudah tidak aktif ketika aku mencoba meneleponnya. Cowok aneh bin ajaib itu sungguh aneh bin ajaib. Hilang ketika matahari cerah ceria dan kembali saat hujan dengan berita mengejutkan. Masa bodoh, baru juga kenal. Siapa elo?
1 menit.. 3 menit.. Itu manusia satu benar benar berantem. Sama siapa? Di mana? 5 menit.. Mungkin berantem sama ceweknya kali ya? 6 menit 30 detik.. Sial, kok jadi ribet sendiri sih aku. Baru juga kenal, kok udah khawatir gini ya? 10 menit berlalu, mungkin sudah berpuluh puluh kali aku melirik layar handphoneku, memastikan bahwa ada garis signal di pojok kiri atas dan nothing. Tidak ada sms lagi dari Bima.
Sepi, sunyi, bersamaan dengan meredanya hujan.
Untitled1--proyek iseng kala hujan
Siang yg kelam. Terik mentari yg biasanya menyengat seolah hilang tertelan gelap awan.
Gerutuan manusia masih saja terdenger. Dari cucian hampir kering yg harus dicuci lagi, harus mandi keramas lagi, batalnya rencana makan siang bersama pujaan hati, lupa bawa mantel, sampai penuh dan sumpeknya halte bis dan emperan toko yang mendadak berfungsi sebagai payung raksasa.
Oalaah, dasar manusia. Panas protes, hujan juga ngomel ngomel, maunya apa, toh? Tidak sadarkah kalau malaikat pengatur cuaca di surga lagi pusing tujuh keliling, menjambak rambutnya sendiri, mencakari wajahnya cantik karena frustasi mendengar tingkah polah gerutuan kalian? Poor little angel!
Disinilah aku, di lautan manusia depan sebuah toko mungil dengan interior unik yang menarik, menghindari air hujan yang mendadak tumpah dari langit. I can’t even see anything! Too crowded! Hey, stop moving around! You pushed me! Huh, beginilah derita cewek bertubuh kecil mungil, terdesak kesana kemari di tengah keramaian.
“Permisi, numpang lewat,”
Mendadak seorang cowok berkulit gelap membelah kerumunan. Benda besar berbulu merah muda—mungkin boneka beruang, atau boneka babi—di tangannya menunjukkan dia baru saja mnghabiskan berlembar lembar uang di toko mungil tersebut. Spontan logikaku berbicara, boneka sebesar gedung itu gimana bisa masuk ke toko mungil begini? Apa mungkin toko mungil itu punya semacam ruang rahasia untuk menyimpan boneka-boneka berukuran jauh dari normal?
Sebuah benda asing berbulu lembut yang membelai pipiku tiba tiba membuatku sadar dari imaginasi liar dan tidak hanya sadar tapi juga membuatku melompat—kaget—menjauh dan melihat ke arahnya. What the heck! Si benda besar berbulu merah muda itu mendadak ada di sebelahku. Hoo? Siapa nih yg punya? Masa nih benda bisa jalan jalan sendiri?
“Hehehe, kaget ya? Maaf deh!” suara aneh terdengar dari balik boneka merah muda tersebut.
“Makhluk pink apa, nih?” tanyaku spontan.
“Kuda,” jawabnya sambil dengan bangga menunjukkan muka si boneka berbulu aneh bin ajaib tersebut. Jawaban yg membuatku melongo seketika. Pasalnya, itu boneka punya hidung dan telinga babi, berponi, berekor panjang, dan berkaki persegi panjang layak seekor kuda. Nah loh, susah kan membayangkannya?
“Buat ibumu ya?” tanyaku sekenanya. Insiden boneka kuda berhidung babi ini membuat otakku semakin gila dan berpikir ke arah yang tidak seharusnya. Mana ada cowok memberikan hadiah untuk ibunya sebuah boneka kuda berwarna pink dan berhidung babi? Coba bayangin, si ibu mendadak jadi keranjingan tidur meluk si boneka itu. Bisa langsung dimutilasi suaminya tuh.
“Bukanlah!”
“Trus buat sapa? Pacar ya?”
“Ya gitu..”
Obrolan terus bergulir begitu saja seiring derasnya hujan. Kadang saling menatap dalam diam, kadang melirik dan tersenyum tersipu, kadang terlihat tegang dan memanas, lalu tertawa terbahak bahak. Seperti hujan, kadang rintiknya jatuh dengan sangat manis, kadang berangin dan dingin, kadang derasnya mengguyur dengan sadis diikuti halilintar dan petir. Tapi hujan, selalu akan berakhir.
Gerutuan manusia masih saja terdenger. Dari cucian hampir kering yg harus dicuci lagi, harus mandi keramas lagi, batalnya rencana makan siang bersama pujaan hati, lupa bawa mantel, sampai penuh dan sumpeknya halte bis dan emperan toko yang mendadak berfungsi sebagai payung raksasa.
Oalaah, dasar manusia. Panas protes, hujan juga ngomel ngomel, maunya apa, toh? Tidak sadarkah kalau malaikat pengatur cuaca di surga lagi pusing tujuh keliling, menjambak rambutnya sendiri, mencakari wajahnya cantik karena frustasi mendengar tingkah polah gerutuan kalian? Poor little angel!
Disinilah aku, di lautan manusia depan sebuah toko mungil dengan interior unik yang menarik, menghindari air hujan yang mendadak tumpah dari langit. I can’t even see anything! Too crowded! Hey, stop moving around! You pushed me! Huh, beginilah derita cewek bertubuh kecil mungil, terdesak kesana kemari di tengah keramaian.
“Permisi, numpang lewat,”
Mendadak seorang cowok berkulit gelap membelah kerumunan. Benda besar berbulu merah muda—mungkin boneka beruang, atau boneka babi—di tangannya menunjukkan dia baru saja mnghabiskan berlembar lembar uang di toko mungil tersebut. Spontan logikaku berbicara, boneka sebesar gedung itu gimana bisa masuk ke toko mungil begini? Apa mungkin toko mungil itu punya semacam ruang rahasia untuk menyimpan boneka-boneka berukuran jauh dari normal?
Sebuah benda asing berbulu lembut yang membelai pipiku tiba tiba membuatku sadar dari imaginasi liar dan tidak hanya sadar tapi juga membuatku melompat—kaget—menjauh dan melihat ke arahnya. What the heck! Si benda besar berbulu merah muda itu mendadak ada di sebelahku. Hoo? Siapa nih yg punya? Masa nih benda bisa jalan jalan sendiri?
“Hehehe, kaget ya? Maaf deh!” suara aneh terdengar dari balik boneka merah muda tersebut.
“Makhluk pink apa, nih?” tanyaku spontan.
“Kuda,” jawabnya sambil dengan bangga menunjukkan muka si boneka berbulu aneh bin ajaib tersebut. Jawaban yg membuatku melongo seketika. Pasalnya, itu boneka punya hidung dan telinga babi, berponi, berekor panjang, dan berkaki persegi panjang layak seekor kuda. Nah loh, susah kan membayangkannya?
“Buat ibumu ya?” tanyaku sekenanya. Insiden boneka kuda berhidung babi ini membuat otakku semakin gila dan berpikir ke arah yang tidak seharusnya. Mana ada cowok memberikan hadiah untuk ibunya sebuah boneka kuda berwarna pink dan berhidung babi? Coba bayangin, si ibu mendadak jadi keranjingan tidur meluk si boneka itu. Bisa langsung dimutilasi suaminya tuh.
“Bukanlah!”
“Trus buat sapa? Pacar ya?”
“Ya gitu..”
Obrolan terus bergulir begitu saja seiring derasnya hujan. Kadang saling menatap dalam diam, kadang melirik dan tersenyum tersipu, kadang terlihat tegang dan memanas, lalu tertawa terbahak bahak. Seperti hujan, kadang rintiknya jatuh dengan sangat manis, kadang berangin dan dingin, kadang derasnya mengguyur dengan sadis diikuti halilintar dan petir. Tapi hujan, selalu akan berakhir.
Subscribe to:
Posts (Atom)