Sudah lewat jam tiga, namun terik matahari masih saja dengan semangat 45 membakar bumi. Sempat terbesit sebuah pikiran gila, matahari semakin mendekat ke bumi kah? Atau neraka yang bocor kah? Hingga panasnya merasuk ke semua sendi sendi kehidupan manusia, dari cucian yang terlalu kering dengan warna yang semakin memucat tergilas matahari, sampai pengemis jalanan yang merelakan begitu saja uang uang berseliweran dan memilih berteduh di bawah pepohonan.
Aku sendiri, masih menunggu lepas jam empat, selain karena panas, juga karena ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan di sekolah. Bosan. Kumainkan handphone di tangan dan berpikir untuk sekedar bersms ria dengan seseorang, entah siapa. Bima, nama itu kembali menyusup ke ingatan. Mungkin sudah 24 jam lewat sejak pesan singkatnya yang mengagetkan itu. He's still missing.
"Hai, lagi apa nih? Gimana kemarin berantemnya?"
Lama, hampir disetiap celah rapat salah satu acara sekolahku, entah ketika sang sekretaris sibuk menulis di papan tulis, atau si ketua yang berusaha mencairkan suasana dengan gurauan garingnya, atau lagi ketika para ketua divisi membicarakan program kerjanya, aku sempatkan melirik handphoneku. Tidak berubah, tetap layar yang sama dengan foto narsisku, tidak ada tanda sms baru.
Drrrt.. Bangku tempatku duduk mendadak bergetar. Tenang, tenang, bukan gempa kok. Cuma handphone ini aja heboh getarnya. Kuambil si asal getaran dari saku rok abu abuku. 1 new message..
"Mbak, kok pulangnya sore?"
Sial, lupa bilang kalau masih ada rapat di sekolah. Tapi bukan itu, kok yang sms malah ibuku sih, mana ini smsnya Bima? Ditungguin kok enggak muncul muncul. Jari jariku bermain indah menekan tuts handphone mengabarkan bahwa aku ada rapat dan pulang telat serta menyertakan pembelaan kalau aku sudah titip pesan pada Pak Joko, supir ayahku untuk mnjemputku sekitar setengah lima sore. Selesai, masuk saku rok lagi.
Drrrt.. Bangku tempatku duduk mendadak bergetar lagi. Eh, gempa! Just kidding. Tenang, santai bukan gempa kok. Tegang amat sih, Ini handphone getar lagi. 1 new message.. Ah, paling ibu lagi, bilang oke atau ngomel ngomel tanya kenapa aku enggak bilang sebelumnya. Biarin dulu aja. Biar kelihatan kalau lagi serius rapat.
"Ya udah, gitu dulu aja. Ayo pulang!"
Bu Ketua menutup acara dengan kalimat seadanya. Lelah tersirat di wajah cantik. Acara besar kami ini sungguh memusingkan. Tidak terlalu besar memang, tapi kurangnya sumber daya manusia yang mau berkomitmen untuk acara ini memang menjadi masalah utama. Sudahlah, saatnya pulang, istirahat.
"Kira!"
Aku berbalik, ya, Kira itu namaku, masa pada belum tahu sih? Sophia, salah seorang teman baikku memanggil. Seperti biasa, kami berjalan bersama ke depan sekolah. Masih 15 menit lewat pukul empat, Pak Joko belum terlihat di mana mana. Aku memutuskan untuk duduk lesehan dengan Sophia di dekat pos satpam.
"Kamu tadi pas rapat kenapa sih, gelisah amat? Bentar bentar lihat hape mulu."
"Hehehe.."
Aku cengar cengir saja menjawab pertanyaannya. Mematikan, sekaligus mengingatkanku akan handphoneku di kantong. Tulisan 1 new message bertenger di layar warna handphoneku. Kubuka, nomor Bima muncul. Sial, kalau tadi aku tahu itu sms dari Bima, aku mungkin tidak akan mengabaikan getaran yang terakhir tadi.
"Biasalah, masalah ma cewekku. Sempet adu mulut gitu kemarin, tapi sekarang sudah baikan lagi kok."
"Maaf, baru balas, tadi masih ada rapat dsekolah. Ohh, baguslah. Awet yah, sama cewekmu."
"Ok!"
You gotta be kidding me! Aku baru saja mengkhawatirkannya sehari semalam, lebih dari 24 jam, dan tanggapannya cuma kaya gitu? Bagus, aku juga tidak mau punya urusan dengan "orang yang sudah ada anjingnya". Digigit anjingnya repot entar.
"Sapa, Kir? Kenalan maya baru?"
Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Sophia. Lagi, aku tidak tahu harus menjawab gimana. Jadi lagi, aku cuma cengar cengir enggak jelas.
"Panjang ceritanya, Soph! Besok ya? Itu Pak Joko udah muncul, aku pulang dulu ya?"
Cabuut...
Saturday, March 26, 2011
Friday, March 25, 2011
Untitled2--proyek iseng kala hujan
Namanya Bima. Cowok berkulit gelap yang membeli kuda beruang berwarna pink dan berhidung babi itu bernama Bima. Dia manis, pintar membawa suasana yang hangat ditengah dinginnya hujan.
Aku merasa cewek yang mendapatkan boneka itu adalah cewek yang cukup beruntung. Memang sih, boneka aneh itu sebenarnya agak menyeramkan, tapi aku yakin banyak uang dan juga rasa malu yang dia relakan untuk membelinya. Gila kali, mana ada cowok yang mau bawa bawa boneka aneh sebesar gedung itu kemana mana, toko-pulang-ke rumah ceweknya.
Beberapa waktu setelah hujan berhenti siang itu, sebelum kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, kami bertukar nomor handphone dan berjanji untuk saling menghubungi suatu hari nanti.
Sore ini kembali hujan, untung saja aku sudah sampai di rumah dengan selamat--baca: tidak terlalu basah. Hujan yang sering tiba tiba tumpah dari langit itu sungguh tak terprediksi eksistensinya. Mentari yang cerah ceria bernafsu membakar manusia setengah jam yang lalu seolah mendadak hilang dari peredaran dan digantikan oleh hujan deras. Sama seperti Bima, setelah lewat berhari hari sejak kami sama sama berteduh siang itu, dia sungguh hilang, entah tewas, entah berpindah ke galaksi lain, mendadak sms dari nomornya berteduh di handphoneku.
"Aku mau berantem nih."
"Loh? Kenapa?"
"Ntar aku ceritain, doakan aku selamat ya?"
"Ogah banget, mau selamat ya jangan berantem."
"Haha:) ok, ntar aku kabarin."
What? Handphonenya sudah tidak aktif ketika aku mencoba meneleponnya. Cowok aneh bin ajaib itu sungguh aneh bin ajaib. Hilang ketika matahari cerah ceria dan kembali saat hujan dengan berita mengejutkan. Masa bodoh, baru juga kenal. Siapa elo?
1 menit.. 3 menit.. Itu manusia satu benar benar berantem. Sama siapa? Di mana? 5 menit.. Mungkin berantem sama ceweknya kali ya? 6 menit 30 detik.. Sial, kok jadi ribet sendiri sih aku. Baru juga kenal, kok udah khawatir gini ya? 10 menit berlalu, mungkin sudah berpuluh puluh kali aku melirik layar handphoneku, memastikan bahwa ada garis signal di pojok kiri atas dan nothing. Tidak ada sms lagi dari Bima.
Sepi, sunyi, bersamaan dengan meredanya hujan.
Aku merasa cewek yang mendapatkan boneka itu adalah cewek yang cukup beruntung. Memang sih, boneka aneh itu sebenarnya agak menyeramkan, tapi aku yakin banyak uang dan juga rasa malu yang dia relakan untuk membelinya. Gila kali, mana ada cowok yang mau bawa bawa boneka aneh sebesar gedung itu kemana mana, toko-pulang-ke rumah ceweknya.
Beberapa waktu setelah hujan berhenti siang itu, sebelum kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, kami bertukar nomor handphone dan berjanji untuk saling menghubungi suatu hari nanti.
Sore ini kembali hujan, untung saja aku sudah sampai di rumah dengan selamat--baca: tidak terlalu basah. Hujan yang sering tiba tiba tumpah dari langit itu sungguh tak terprediksi eksistensinya. Mentari yang cerah ceria bernafsu membakar manusia setengah jam yang lalu seolah mendadak hilang dari peredaran dan digantikan oleh hujan deras. Sama seperti Bima, setelah lewat berhari hari sejak kami sama sama berteduh siang itu, dia sungguh hilang, entah tewas, entah berpindah ke galaksi lain, mendadak sms dari nomornya berteduh di handphoneku.
"Aku mau berantem nih."
"Loh? Kenapa?"
"Ntar aku ceritain, doakan aku selamat ya?"
"Ogah banget, mau selamat ya jangan berantem."
"Haha:) ok, ntar aku kabarin."
What? Handphonenya sudah tidak aktif ketika aku mencoba meneleponnya. Cowok aneh bin ajaib itu sungguh aneh bin ajaib. Hilang ketika matahari cerah ceria dan kembali saat hujan dengan berita mengejutkan. Masa bodoh, baru juga kenal. Siapa elo?
1 menit.. 3 menit.. Itu manusia satu benar benar berantem. Sama siapa? Di mana? 5 menit.. Mungkin berantem sama ceweknya kali ya? 6 menit 30 detik.. Sial, kok jadi ribet sendiri sih aku. Baru juga kenal, kok udah khawatir gini ya? 10 menit berlalu, mungkin sudah berpuluh puluh kali aku melirik layar handphoneku, memastikan bahwa ada garis signal di pojok kiri atas dan nothing. Tidak ada sms lagi dari Bima.
Sepi, sunyi, bersamaan dengan meredanya hujan.
Untitled1--proyek iseng kala hujan
Siang yg kelam. Terik mentari yg biasanya menyengat seolah hilang tertelan gelap awan.
Gerutuan manusia masih saja terdenger. Dari cucian hampir kering yg harus dicuci lagi, harus mandi keramas lagi, batalnya rencana makan siang bersama pujaan hati, lupa bawa mantel, sampai penuh dan sumpeknya halte bis dan emperan toko yang mendadak berfungsi sebagai payung raksasa.
Oalaah, dasar manusia. Panas protes, hujan juga ngomel ngomel, maunya apa, toh? Tidak sadarkah kalau malaikat pengatur cuaca di surga lagi pusing tujuh keliling, menjambak rambutnya sendiri, mencakari wajahnya cantik karena frustasi mendengar tingkah polah gerutuan kalian? Poor little angel!
Disinilah aku, di lautan manusia depan sebuah toko mungil dengan interior unik yang menarik, menghindari air hujan yang mendadak tumpah dari langit. I can’t even see anything! Too crowded! Hey, stop moving around! You pushed me! Huh, beginilah derita cewek bertubuh kecil mungil, terdesak kesana kemari di tengah keramaian.
“Permisi, numpang lewat,”
Mendadak seorang cowok berkulit gelap membelah kerumunan. Benda besar berbulu merah muda—mungkin boneka beruang, atau boneka babi—di tangannya menunjukkan dia baru saja mnghabiskan berlembar lembar uang di toko mungil tersebut. Spontan logikaku berbicara, boneka sebesar gedung itu gimana bisa masuk ke toko mungil begini? Apa mungkin toko mungil itu punya semacam ruang rahasia untuk menyimpan boneka-boneka berukuran jauh dari normal?
Sebuah benda asing berbulu lembut yang membelai pipiku tiba tiba membuatku sadar dari imaginasi liar dan tidak hanya sadar tapi juga membuatku melompat—kaget—menjauh dan melihat ke arahnya. What the heck! Si benda besar berbulu merah muda itu mendadak ada di sebelahku. Hoo? Siapa nih yg punya? Masa nih benda bisa jalan jalan sendiri?
“Hehehe, kaget ya? Maaf deh!” suara aneh terdengar dari balik boneka merah muda tersebut.
“Makhluk pink apa, nih?” tanyaku spontan.
“Kuda,” jawabnya sambil dengan bangga menunjukkan muka si boneka berbulu aneh bin ajaib tersebut. Jawaban yg membuatku melongo seketika. Pasalnya, itu boneka punya hidung dan telinga babi, berponi, berekor panjang, dan berkaki persegi panjang layak seekor kuda. Nah loh, susah kan membayangkannya?
“Buat ibumu ya?” tanyaku sekenanya. Insiden boneka kuda berhidung babi ini membuat otakku semakin gila dan berpikir ke arah yang tidak seharusnya. Mana ada cowok memberikan hadiah untuk ibunya sebuah boneka kuda berwarna pink dan berhidung babi? Coba bayangin, si ibu mendadak jadi keranjingan tidur meluk si boneka itu. Bisa langsung dimutilasi suaminya tuh.
“Bukanlah!”
“Trus buat sapa? Pacar ya?”
“Ya gitu..”
Obrolan terus bergulir begitu saja seiring derasnya hujan. Kadang saling menatap dalam diam, kadang melirik dan tersenyum tersipu, kadang terlihat tegang dan memanas, lalu tertawa terbahak bahak. Seperti hujan, kadang rintiknya jatuh dengan sangat manis, kadang berangin dan dingin, kadang derasnya mengguyur dengan sadis diikuti halilintar dan petir. Tapi hujan, selalu akan berakhir.
Gerutuan manusia masih saja terdenger. Dari cucian hampir kering yg harus dicuci lagi, harus mandi keramas lagi, batalnya rencana makan siang bersama pujaan hati, lupa bawa mantel, sampai penuh dan sumpeknya halte bis dan emperan toko yang mendadak berfungsi sebagai payung raksasa.
Oalaah, dasar manusia. Panas protes, hujan juga ngomel ngomel, maunya apa, toh? Tidak sadarkah kalau malaikat pengatur cuaca di surga lagi pusing tujuh keliling, menjambak rambutnya sendiri, mencakari wajahnya cantik karena frustasi mendengar tingkah polah gerutuan kalian? Poor little angel!
Disinilah aku, di lautan manusia depan sebuah toko mungil dengan interior unik yang menarik, menghindari air hujan yang mendadak tumpah dari langit. I can’t even see anything! Too crowded! Hey, stop moving around! You pushed me! Huh, beginilah derita cewek bertubuh kecil mungil, terdesak kesana kemari di tengah keramaian.
“Permisi, numpang lewat,”
Mendadak seorang cowok berkulit gelap membelah kerumunan. Benda besar berbulu merah muda—mungkin boneka beruang, atau boneka babi—di tangannya menunjukkan dia baru saja mnghabiskan berlembar lembar uang di toko mungil tersebut. Spontan logikaku berbicara, boneka sebesar gedung itu gimana bisa masuk ke toko mungil begini? Apa mungkin toko mungil itu punya semacam ruang rahasia untuk menyimpan boneka-boneka berukuran jauh dari normal?
Sebuah benda asing berbulu lembut yang membelai pipiku tiba tiba membuatku sadar dari imaginasi liar dan tidak hanya sadar tapi juga membuatku melompat—kaget—menjauh dan melihat ke arahnya. What the heck! Si benda besar berbulu merah muda itu mendadak ada di sebelahku. Hoo? Siapa nih yg punya? Masa nih benda bisa jalan jalan sendiri?
“Hehehe, kaget ya? Maaf deh!” suara aneh terdengar dari balik boneka merah muda tersebut.
“Makhluk pink apa, nih?” tanyaku spontan.
“Kuda,” jawabnya sambil dengan bangga menunjukkan muka si boneka berbulu aneh bin ajaib tersebut. Jawaban yg membuatku melongo seketika. Pasalnya, itu boneka punya hidung dan telinga babi, berponi, berekor panjang, dan berkaki persegi panjang layak seekor kuda. Nah loh, susah kan membayangkannya?
“Buat ibumu ya?” tanyaku sekenanya. Insiden boneka kuda berhidung babi ini membuat otakku semakin gila dan berpikir ke arah yang tidak seharusnya. Mana ada cowok memberikan hadiah untuk ibunya sebuah boneka kuda berwarna pink dan berhidung babi? Coba bayangin, si ibu mendadak jadi keranjingan tidur meluk si boneka itu. Bisa langsung dimutilasi suaminya tuh.
“Bukanlah!”
“Trus buat sapa? Pacar ya?”
“Ya gitu..”
Obrolan terus bergulir begitu saja seiring derasnya hujan. Kadang saling menatap dalam diam, kadang melirik dan tersenyum tersipu, kadang terlihat tegang dan memanas, lalu tertawa terbahak bahak. Seperti hujan, kadang rintiknya jatuh dengan sangat manis, kadang berangin dan dingin, kadang derasnya mengguyur dengan sadis diikuti halilintar dan petir. Tapi hujan, selalu akan berakhir.
Monday, March 21, 2011
Chicago, I am LOST! 3 *deal with frightened
Hey, siapa sih yang tidak tahu apa itu Willis Tower atau Sears Tower? Kamu? Kamu? Kamu jugaa? Wah, enggak gaul kamu. Hihi:) Tapi saya juga enggak tahu, ding, sebelumnya sampai akhirnya saya sampai di Amerika Serikat dan tinggal sekitar 30menit dari Chicago. Yeaah, Sears Tower atau yang sekarang disebut Willis Tower ini adalah bangunan tertinggi di Chicago dengan 110 lantai. Bangunan ini juga pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia selama 25 tahun sebelum Petronas Towers di Malaysia selesai pada tahun 1998. Satu yang paling menakjubkan dari bangunan ini adalah adanya Skydeck di lantai 103. Skydeck itu sendiri adalah box kaca yang menggantung di sisi barat Willis Tower.
Begitu sampai disana, ada seorang young man yang mencegat kami dan berkata bahwa cuaca tidak memungkinkan untuk naik, dan kalaupun kami nekat, kami tidak bisa melihat pemandangan di bawah kami. Dengan sedikit tidak percaya--karena memang tidak terlalu berawan, kami bahkan bisa melihat skydeck dari bawah, akhirnya kami keluar dari Willis Tower dan menyusun ulang rencana kami. Kami memutuskan untuk menunggu bis 124 di dekat Union Station--sekitar 2blok ke barat dari Willis Tower. Sempat kebingungan juga karena tidak tahu di mana kami harus menunggu bus--kinda lost again. Untung ada cowok Asia ganteng yang memberi kami petunjuk--mau minta foto bareng kok enggak enak gitu, jadi ya relakan saja.
Lama kami disitu, beberapa bus bus lain sudah bersliweran berulang ulang kali, tapi tidak terlihat satu pun bus 124. Kami pun memutuskan untuk mengirim sms ke CTA dengan harapan mendapatkan informasi kapan bus tersebut datang. Dan...., nothing! Huaa, masa hari seindah ini terlewat begitu saja tanpa melakukan apa apa, sih? God, gimme hint! Mendadak sinar matahari menerobos di sela sela awan dan gedung gedung tinggi. Yeaah, It was not that foggy, just kinda little haze. Thanks, God! Kami cepat cepat kembali ke Willis Tower.
Sesampainya di sana, si young man yang tadi mengusir kami sudah berganti rupa menjadi seorang young lady cantik yang mempersilahkan kami naik ke atas sambil mewanti wanti kalau kemungkinan kami akan menunggu sekitar 1 jam sebelum akhirnya bisa nangkring di skydeck. No problem! I just want get in there! Pertama kami turun dulu ke basement karena tiket box dan semacamnya itu ada disana. Setelah melewati berbagai macam aneh aneh itu, akhirnya sampailah saya di lantai 103, tempat skydeck itu.
Yeaah, seperti bisa kalian lihat, itu saya di salah satu skydeck.
Let's come back to the beginning, guys. Hari ini, Senin, berdasarkan forecast, host mom saya memutuskan bahwa hari ini adalah hari outdoor activity. Kami berencana naik El CTA Brown Line--kereta listrik gitulah ke Willis Tower, lalu naik bus 124 ke Navy Pier dan pulang ke apartemen dengan bus 60. Waduh, kaki saya mulai mulai protes mendengar semua rencana tersebut, pasti buaanyak jalannya nih. Apartemen tempat saya tinggal sekarang sekitar 8 blok dari Brown Line station. Jadilah tadi pagi jam 11an kami berdua berjalan dari rumah sampai ke station. Hanya dengan 4 pemberhentian sampailah kami di station yang dekat dengan Willis Tower. I was so excited at that point.
Willis Tower kelihatan dari train station
Begitu sampai disana, ada seorang young man yang mencegat kami dan berkata bahwa cuaca tidak memungkinkan untuk naik, dan kalaupun kami nekat, kami tidak bisa melihat pemandangan di bawah kami. Dengan sedikit tidak percaya--karena memang tidak terlalu berawan, kami bahkan bisa melihat skydeck dari bawah, akhirnya kami keluar dari Willis Tower dan menyusun ulang rencana kami. Kami memutuskan untuk menunggu bis 124 di dekat Union Station--sekitar 2blok ke barat dari Willis Tower. Sempat kebingungan juga karena tidak tahu di mana kami harus menunggu bus--kinda lost again. Untung ada cowok Asia ganteng yang memberi kami petunjuk--mau minta foto bareng kok enggak enak gitu, jadi ya relakan saja.
Lama kami disitu, beberapa bus bus lain sudah bersliweran berulang ulang kali, tapi tidak terlihat satu pun bus 124. Kami pun memutuskan untuk mengirim sms ke CTA dengan harapan mendapatkan informasi kapan bus tersebut datang. Dan...., nothing! Huaa, masa hari seindah ini terlewat begitu saja tanpa melakukan apa apa, sih? God, gimme hint! Mendadak sinar matahari menerobos di sela sela awan dan gedung gedung tinggi. Yeaah, It was not that foggy, just kinda little haze. Thanks, God! Kami cepat cepat kembali ke Willis Tower.
Sesampainya di sana, si young man yang tadi mengusir kami sudah berganti rupa menjadi seorang young lady cantik yang mempersilahkan kami naik ke atas sambil mewanti wanti kalau kemungkinan kami akan menunggu sekitar 1 jam sebelum akhirnya bisa nangkring di skydeck. No problem! I just want get in there! Pertama kami turun dulu ke basement karena tiket box dan semacamnya itu ada disana. Setelah melewati berbagai macam aneh aneh itu, akhirnya sampailah saya di lantai 103, tempat skydeck itu.
Pemandangan East Chicago dan Lake Michigan dari lantai 103
First step in skydeck. *sumpah langsung pusing pas ini. deg deg an bangeet, takuut..
mulai bisa mengalahkan rasa takut dan betah ada di skydeck, gg mau pindah., gg mau turun, mau disitu terus.
I had a really good time there. Saya benar benar menyadari betapa beraninya saya ketika saya dengan sangat mudah melompat ke skydeck dan bermain main di sana. Sementara orang orang lain di sekitar saya, seperti takut takut, ada yang menangis pula. Satu yang paling berkesan, ada empat orang Korea, dilihat dari gayanya sih kaya masih sekolah gitu, ganteng ganteng keren gitu. Aku kira mereka yang bakal dengan gagah berani foto foto di skydeck, ternyataaa.. baru liat bawah dikit aja, ada satu yang tahu tahu bersuara, "Huwwoo," sambil melangkah mundur menjauh. Saya dan host mom saya langsung tertawa terbahak bahak melihat tingkah aneh bin ajaib mereka.
Pulangnya, kami mampir makan siang sekalian malam di Corner Bakery dan secara tidak sengaja menemukan sebuah wall penuh dengan bendera dari berbagai negara. Saya tidak yakin ada berapa negara yang bendera di pasang, mungkin semua negara, termasuk Indonesia.
hayoo, bendera Indonesia yang mana hayoo? haha:D
Mau tahu, bagaimana kami mengakhiri trip kami hari ini? Jalan sampai aparrtemen lewat Michigan Avenue lagi. Melihat bermacam macam bangunan bangunan indah itu memang sangat menarik sih, tapi sampai apartemen kaki nih yang yang menjerit jerit minta istirahat. Selain masalah kaki, hari ini benar benar menyenangkan.
Wrigley Building--Chicago Tribune
Trumph Tower
narsis sepanjang jalan
It used to be Mosque. It is Furniture Store now.
Chicago, I am LOST! 2 *science day
Sekali lagi, saya tekan kan, saya tidak hilang. Saya baik-baik saja, senang, cerah ceria, gembira, menikmati liburan musim semi saya di Chicago. Well, kinda lost at some points, karena terlalu asik mengabadikan setiap kenangan mengagumkan disana. Tapi tidak bisa disebut hilang juga, orang tua angkat saya hanya sekiat 5 meter di depan saya.
Hari Minggu, karena cuaca yang tidak mendukung untuk outdoor activity, orang tua angkat saya memutuskan untuk Tour de Museum Science and Industry Chicago. Museum ini letaknya sedikit jauh ke bagian selatan Chicago, sehingga mereka punya tempat parkir bawah tanah untuk memudahkan orang orang yang berkunjung ke sana. Lumayanlah, saya tidak harus berjalan jauh hari ini. Setelah membeli tiket admission, dan mengambil map, mulailah petualangan kami di museum yang besar tersebut. Karena sepertinya tidak memungkinkan untuk melihat semua koleksi yang ada disini, maka kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan melihat lihat peta--kaya Dora, the explorer.

Hari Minggu, karena cuaca yang tidak mendukung untuk outdoor activity, orang tua angkat saya memutuskan untuk Tour de Museum Science and Industry Chicago. Museum ini letaknya sedikit jauh ke bagian selatan Chicago, sehingga mereka punya tempat parkir bawah tanah untuk memudahkan orang orang yang berkunjung ke sana. Lumayanlah, saya tidak harus berjalan jauh hari ini. Setelah membeli tiket admission, dan mengambil map, mulailah petualangan kami di museum yang besar tersebut. Karena sepertinya tidak memungkinkan untuk melihat semua koleksi yang ada disini, maka kami memutuskan untuk berhenti sebentar dan melihat lihat peta--kaya Dora, the explorer.
lightning simulation
kaya baju astronout ya? tapi ini adalah baju pemadam kebakaran lho
versi lebih besar dari yang ada di Taman Pintar
ini John, pekerja coal mine. just kidding, dia tour guide di coal mine area
my wedding dress, I hope. lol:D
Sekitar 5 jam, kami berputar putar di museum tersebut. Kami memutuskan untuk memulai petualangan kamu dengan naik ke lantai 3 melalui tangga biru yang ada pendulum raksasanya. Sampailah kami di area natural disaster. Disitu penuh dengan alat alat keren yang memunculkan simulasi tornado, hurricane, gelombang air, kilat dan lain sebagai. Saya juga melihat proses menetasnya anak ayam--agak aneh ya, anak ayam kalau baru keluar dari telurnya. Wah.. kalau diceritain satu satu detailnya bisa jadi panjang banget nih. Pokoknya disitu banyak banget hal yang keren keren, kaya replika kota Chicago, replika Rocky Mount dan Seattle, kereta api lama, pesawat pesawat, cermin aneh yang bisa bikin kaki atau tubuh saya memanjang, Colleen Moore's Fairy Castle, shadow screen, dan juga replika tambang coal--bahasa indonesianya apa sih? batu bara bukan?
ini yang saya sebut dengan shadow screen, saya lupa nama aslinya apa, tapi ini benar benar keren. ohya, itu host dad saya.
gambar muka bumi waktu Tsunami Aceh 2004
fun banget jalan di section ini, berasa kaya di dunia komputer. haha:)
Tidak bisa digambarkan dengan kata katalah pokoknya pengalaman saya ke museum ini. Terlalu menyenangkan dan menakjubkan melihat hampir semua aspek kehidupan ada di museum tersebut. Salah besar kalau kalian berpikir "ngapain 5jam di museum? bosen banget!" Buat saya, berkunjung ke museum selama 5jam itu waktu yang kurang. Masih banyak yang ingin saya lihat di museum tersebut. Sekalipun saya berulang kali kembali ke museum tersebut, saya yakin saya masih akan surprise dengan fiture yang ada disitu.
Sunday, March 20, 2011
Chicago, I am LOST! 1 *kesan pertama tentang Chicago
Woowoo, tenang! Saya tidak tersesat kok, masih di jalan yang benar dan sedang menikmati hari kedua liburan musim semi saya tepat di jantung kota Chicago. Awal dari sebuah liburan yang menyenangkan--knock on the wood.
Jangan dibayangkan tinggal di downtown Chicago itu sama dengan tinggal di Jakarta atau Surabaya! I tell you, it is completely diffferent. Soal macet sih, layaknya sebuah kota, pasti ada jam jam tertentu yang semua mobil seakan tumpah ruah di jalanan, entah jalan besar atau jalan kecil. Tapi believe me, sebenarnya kamu tidak perlu punya mobil untuk hidup di sini--kecuali kamu kerja di luar downtown Chicago. Kota manis ini punya public transportation system yang bagus, walau mungkin masih kalah dibandingkan dengan transportasi umum di Eropa. Kita bisa mengelilingi semua sudut kota dengan bus, kereta dan juga dengan kaki kita sendiri.
Saya sendiri pun sudah merasakan serunya berjalan di tengah rimba huge tall buildings tepat beberapa jam setelah kedatangan saya keenam di Kota Angin ini. Host parents saya mengajak saya makan di sebuah restoran bernama Ed Debevic's. Kami berjalan sekitar 15 menit sambil menikmati kelap kelip malam Chicago. Satu kata AWESOME. Restoran yang saya datangi tersebut adalah salah satu restoran yang cukup terkenal di Chicago dengan setting tahun 50s, tulisan tulisan agak ekstrem di sudut, waitress yang bertingkah tidak ramah tapi lucu, juga pertunjukan dance di atas meja. Benar benar makan malam yang asik.
Pulangnya, kami memilih jalan memutar yang lumayan jauh sehingga saya bisa melihat Michigan Avenue at night. Di tengah perjalanan, tiba tiba saya tertegun dan syok melihat sebuah logo kapital M kuning yang sangat besar di pinggir jalan. Yeah, salah satu McDonald's terbesar ada di depan mata saya, Rock and Roll McDonalds. Tempat di sebelahnya ada sebuah gitar besar dengan HardRock cafe logo.
We kept walking, mampir sebentar di Starbucks buat nunut buang air kecil--hihi:) dan sampailah kami di Michigan Avenue. Lalu, ya kami cuma jalan aja sepanjang Michigan Avenue, mendaki gunung, lewati lembah. Yee, malah nyanyi. Sedikit info, Michigan Avenue ini adalah salah satu ruas jalan di Chicago yang isinya toko toko bermerek yang sudah bisa dipastikan, harganya selangit. Ini sudah kedua kali saya berjalan sepanjang jalan berduit dan bergengsi itu. Kedua kalinya pula, cuma jalan jalan aja sambil berdoa semoga kuat iman dan tidak tergoda baju baju yang melambai lambai sepanjang jalan.
Akhirnya kita belok di perempatan yang ada Water Tower dan John Hancock. Entah kenapa saya suka sekali sama The Old Water Tower, satu satunya building yang utuh waktu Great Chicago Fire 1871. Jalan jalan bentar gitu, belok belok dikit, ketemu deh bangunan tua, besar dengan ornamen ornamen indah. Kagum banget lihat bangunan itu, saya lihat lihat dan amati, "kok kaya bangunan gereja yang ada di film film barat ya?" Ternyata ehh, itu Holy Name Cathedral Chicago. Surprise nya lagi, itu gereja cuma sekitar 10 menit jalan dari apartemen tempat saya tinggal sekarang.
Daylight pertama di Chicago, tidak ada hal besar. Hanya di rumah santai, jalan ke grocery store, bikin dinner trus makan. Malamnya, kami drove around di sekitar UIC lalu lanjut ke jalanan pinggir Lake Michigan. Di sebelah kanan tuh pemandangannya danau yang tidak begitu terlihat jelas karena gelap, tapi di sebelah kiri Skyline of Chicago! Willis Tower, John Hancock, Trumph Tower, dan banyak big, tall buildings dengan lampu lampunya yang amazing semuanya tumpah ruah di sebelah kiri jalan itu.
Mendadak saya jadi berpikiran untuk tinggal dan kuliah di kota yang menyenangkan ini. Rasanya kok amat sangat disayangkan kalau cuma kesini satu tahun, harus bisa balik ke sini lagi. Okey, saya memang orang yang mudah terobsesi oleh sesuatu. Mungkin segini dulu cerita hari ini, nantikan blog selanjutnya di Chicago, I am lost..
Jangan dibayangkan tinggal di downtown Chicago itu sama dengan tinggal di Jakarta atau Surabaya! I tell you, it is completely diffferent. Soal macet sih, layaknya sebuah kota, pasti ada jam jam tertentu yang semua mobil seakan tumpah ruah di jalanan, entah jalan besar atau jalan kecil. Tapi believe me, sebenarnya kamu tidak perlu punya mobil untuk hidup di sini--kecuali kamu kerja di luar downtown Chicago. Kota manis ini punya public transportation system yang bagus, walau mungkin masih kalah dibandingkan dengan transportasi umum di Eropa. Kita bisa mengelilingi semua sudut kota dengan bus, kereta dan juga dengan kaki kita sendiri.
Saya sendiri pun sudah merasakan serunya berjalan di tengah rimba huge tall buildings tepat beberapa jam setelah kedatangan saya keenam di Kota Angin ini. Host parents saya mengajak saya makan di sebuah restoran bernama Ed Debevic's. Kami berjalan sekitar 15 menit sambil menikmati kelap kelip malam Chicago. Satu kata AWESOME. Restoran yang saya datangi tersebut adalah salah satu restoran yang cukup terkenal di Chicago dengan setting tahun 50s, tulisan tulisan agak ekstrem di sudut, waitress yang bertingkah tidak ramah tapi lucu, juga pertunjukan dance di atas meja. Benar benar makan malam yang asik.
Pulangnya, kami memilih jalan memutar yang lumayan jauh sehingga saya bisa melihat Michigan Avenue at night. Di tengah perjalanan, tiba tiba saya tertegun dan syok melihat sebuah logo kapital M kuning yang sangat besar di pinggir jalan. Yeah, salah satu McDonald's terbesar ada di depan mata saya, Rock and Roll McDonalds. Tempat di sebelahnya ada sebuah gitar besar dengan HardRock cafe logo.
We kept walking, mampir sebentar di Starbucks buat nunut buang air kecil--hihi:) dan sampailah kami di Michigan Avenue. Lalu, ya kami cuma jalan aja sepanjang Michigan Avenue, mendaki gunung, lewati lembah. Yee, malah nyanyi. Sedikit info, Michigan Avenue ini adalah salah satu ruas jalan di Chicago yang isinya toko toko bermerek yang sudah bisa dipastikan, harganya selangit. Ini sudah kedua kali saya berjalan sepanjang jalan berduit dan bergengsi itu. Kedua kalinya pula, cuma jalan jalan aja sambil berdoa semoga kuat iman dan tidak tergoda baju baju yang melambai lambai sepanjang jalan.
Akhirnya kita belok di perempatan yang ada Water Tower dan John Hancock. Entah kenapa saya suka sekali sama The Old Water Tower, satu satunya building yang utuh waktu Great Chicago Fire 1871. Jalan jalan bentar gitu, belok belok dikit, ketemu deh bangunan tua, besar dengan ornamen ornamen indah. Kagum banget lihat bangunan itu, saya lihat lihat dan amati, "kok kaya bangunan gereja yang ada di film film barat ya?" Ternyata ehh, itu Holy Name Cathedral Chicago. Surprise nya lagi, itu gereja cuma sekitar 10 menit jalan dari apartemen tempat saya tinggal sekarang.
Daylight pertama di Chicago, tidak ada hal besar. Hanya di rumah santai, jalan ke grocery store, bikin dinner trus makan. Malamnya, kami drove around di sekitar UIC lalu lanjut ke jalanan pinggir Lake Michigan. Di sebelah kanan tuh pemandangannya danau yang tidak begitu terlihat jelas karena gelap, tapi di sebelah kiri Skyline of Chicago! Willis Tower, John Hancock, Trumph Tower, dan banyak big, tall buildings dengan lampu lampunya yang amazing semuanya tumpah ruah di sebelah kiri jalan itu.
Mendadak saya jadi berpikiran untuk tinggal dan kuliah di kota yang menyenangkan ini. Rasanya kok amat sangat disayangkan kalau cuma kesini satu tahun, harus bisa balik ke sini lagi. Okey, saya memang orang yang mudah terobsesi oleh sesuatu. Mungkin segini dulu cerita hari ini, nantikan blog selanjutnya di Chicago, I am lost..
McDonald's Rock and Roll
Hard Rock dengan big guitarnya
Baseball Field for Cubs
Eat at Ed's
Chicken Steak at Ed's
tulisan lucu lucu di Ed's
Holy Name Cathedral Chicago
Grandsonnya orang tua angkatku
itu yang tengah, waitress yang melayani meja saya
Thursday, March 17, 2011
Tingkah Laku Manusia dan Bulan Purnama
Mulanya saya tidak pernah berpikir kalau orang barat atau yang biasa kita sebut 'bule', berkulit putih clear, bermata biru, dan berambut blond itu punya superstition atau tahayul. Mengingat otak mereka seperti terprogram selalu berpikir secara logis dan meragukan tahayul yang kita punya. Salah satu yang kuingat adalah ketika salah seorang guruku bercerita tentang seorang English speaker--I don't remember where he comes from--yang pergi ke alun alun selatan, melihat orang orang berusaha melewati beringin kembar, dan kurang lebih berkata "when you step the grass, you know that you are wrong." Terdengar logis sekali bukan? Tapi stereotype yang saya punya selama ini benar benar dihancurkan telak oleh dua cerita yg aku dengar hari ini.
Pertama:
Pulang dari makan malam hari ini, saya memutuskan untuk mengerjakan PR kimia saya di ruang makan yang bersebelahan dengan ruang TV. Host brother saya sedang menonton NCIS, sebuah TV show tentang detektif, semacam CSI. Sanyup-sanyup saya mendengar seseorang di TV show tersebut berkata kalau dia mendengar suara burung apa gitu dan mungkin akan ada yang meninggal di rumah itu. Saya langsung secara otomatis teringat cerita paman saya ketika saya kecil, tentang kepercayaan orang dulu terhadap tahayul itu. Kok dua negara di belahan dunia yang berbeda terpisah luasnya Pacific Ocean bisa ada dua superstition yang sama ya?
Kedua: (Sebenarnya peristiwa ini terjadi sebelum cerita yang pertama.)
American Irish punya sebuah tradisi untuk makan yang namanya corned beef with cabbage di St. Patrick's Day. Sekedar pengetahuan tambahan saja, corned beef itu daging yang dimasak selama 12 jam, disajikan bersama dengan rebusan kobis utuh. Karena hari ini adalah Hari St. Patrick dan host dad saya adalah seorang Irish, tapi host mother saya tidak suka memasak makanan yang ribet, maka pergilah kami bertiga ke sebuah restoran. Saya sudah ketiga kalinya datang ke restoran tersebut dalam kurun waktu 5minggu dan host parent saya selalu menggunakan waitress yang sama setiap kali kami makan disana.
Sue, nama waitress yang melayani kami, adalah orang yang sangat menyenangkan. Di sela sela kerjanya dia selalu datang dan mengobrol di meja kami. Hari ini, awalnya kami berbincang dengan tsunami yang menghantam Jepang beberapa hari yang lalu, kemudian berlanjut ke fullmoon minggu ini. Entah bagaimana tiba tiba dia bercerita tentang pengalaman anehnya melayani meja a middle age lady kala bulan purnama.
"Waktu itu saya ingat, saya hanya memberikan satu gelas anggur untuk wanita itu. Saya tidak yakin apakah dia mabuk. Tapi ketika saya memberikan kotak--tahu kan kotak makanan gitu,bukan yang dari kardus lho-- untuk membawa pulang makanannya, dia memasukkan piring sekaligus makanannya ke kotak tersebut. Saya langsung menegurnya dengan berkata bahwa piringnya tidak boleh dibawa pulang, tapi wanita tersebut marah marah sambil minta bertemu dengan pemilik restoran. 25 tahun saya bekerja disini, saya masih selalu terkejut dengan hal hal aneh yang terjadi saat bulan purnama"
(cerita Sue, dengan pengalihan bahasa dan perubahan seperlunya)
Di perjalanan pulang, saya dan host mom saya masih membicarakan cerita Sue. Saya dengan sangat penasaran bertanya apakah ada hubungan antara bulan purnama dan tingkah laku seseorang. Host mom saya menjawab "I don't know. But, if you ask the police, waitress in restaurant, or people in ICU, they always say that a lot of crazy things happen in fullmoon. So, there is relation between them."
Bulan purnama? Kenapa orang barat punya superstition tentang bulan purnama? Sejenak saya teringat akan cerita cerita werewolf yang muncul ketika bulan purnama. Apakah werewolf itu sebenarnya adalah pencitraan tingkah laku aneh manusia saat bulan purnama?
Cukup dua hal itu membuktikan kalau superstition atau tahayul itu eksis dimana-mana. Terserah kita dalam menghadapinya, boleh percaya, boleh biasa aja, boleh menolaknya.
Pertama:
Pulang dari makan malam hari ini, saya memutuskan untuk mengerjakan PR kimia saya di ruang makan yang bersebelahan dengan ruang TV. Host brother saya sedang menonton NCIS, sebuah TV show tentang detektif, semacam CSI. Sanyup-sanyup saya mendengar seseorang di TV show tersebut berkata kalau dia mendengar suara burung apa gitu dan mungkin akan ada yang meninggal di rumah itu. Saya langsung secara otomatis teringat cerita paman saya ketika saya kecil, tentang kepercayaan orang dulu terhadap tahayul itu. Kok dua negara di belahan dunia yang berbeda terpisah luasnya Pacific Ocean bisa ada dua superstition yang sama ya?
Kedua: (Sebenarnya peristiwa ini terjadi sebelum cerita yang pertama.)
American Irish punya sebuah tradisi untuk makan yang namanya corned beef with cabbage di St. Patrick's Day. Sekedar pengetahuan tambahan saja, corned beef itu daging yang dimasak selama 12 jam, disajikan bersama dengan rebusan kobis utuh. Karena hari ini adalah Hari St. Patrick dan host dad saya adalah seorang Irish, tapi host mother saya tidak suka memasak makanan yang ribet, maka pergilah kami bertiga ke sebuah restoran. Saya sudah ketiga kalinya datang ke restoran tersebut dalam kurun waktu 5minggu dan host parent saya selalu menggunakan waitress yang sama setiap kali kami makan disana.
Sue, nama waitress yang melayani kami, adalah orang yang sangat menyenangkan. Di sela sela kerjanya dia selalu datang dan mengobrol di meja kami. Hari ini, awalnya kami berbincang dengan tsunami yang menghantam Jepang beberapa hari yang lalu, kemudian berlanjut ke fullmoon minggu ini. Entah bagaimana tiba tiba dia bercerita tentang pengalaman anehnya melayani meja a middle age lady kala bulan purnama.
"Waktu itu saya ingat, saya hanya memberikan satu gelas anggur untuk wanita itu. Saya tidak yakin apakah dia mabuk. Tapi ketika saya memberikan kotak--tahu kan kotak makanan gitu,bukan yang dari kardus lho-- untuk membawa pulang makanannya, dia memasukkan piring sekaligus makanannya ke kotak tersebut. Saya langsung menegurnya dengan berkata bahwa piringnya tidak boleh dibawa pulang, tapi wanita tersebut marah marah sambil minta bertemu dengan pemilik restoran. 25 tahun saya bekerja disini, saya masih selalu terkejut dengan hal hal aneh yang terjadi saat bulan purnama"
(cerita Sue, dengan pengalihan bahasa dan perubahan seperlunya)
Di perjalanan pulang, saya dan host mom saya masih membicarakan cerita Sue. Saya dengan sangat penasaran bertanya apakah ada hubungan antara bulan purnama dan tingkah laku seseorang. Host mom saya menjawab "I don't know. But, if you ask the police, waitress in restaurant, or people in ICU, they always say that a lot of crazy things happen in fullmoon. So, there is relation between them."
Bulan purnama? Kenapa orang barat punya superstition tentang bulan purnama? Sejenak saya teringat akan cerita cerita werewolf yang muncul ketika bulan purnama. Apakah werewolf itu sebenarnya adalah pencitraan tingkah laku aneh manusia saat bulan purnama?
Cukup dua hal itu membuktikan kalau superstition atau tahayul itu eksis dimana-mana. Terserah kita dalam menghadapinya, boleh percaya, boleh biasa aja, boleh menolaknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)